Landasan Sosial Budaya dalam Pendidikan

Pendahuluan

LPP sosbudDi era globalisasi seperti sekarang ini, informasi dari sudut dunia manapun sangat mudah untuk kita ketahui. Akibatnya tanpa disadari difusi atau persebaran ide-ide, baik berupa sistem sosial ataupun budaya dari luar masuk ataupun masyarakat luar menyebar dan mungkin ikut terinternalisasi dalam kehidupan suatu masyarakat. Persebaran ide-ide tersebut, makin intens karena didukung oleh kemajuan teknologi informasi dan pengaruh burukpun semakin kompleks terjadi dimasyarakat, tak terkecuali masyarakat di Indonesia.

Permasalahan sosial dan budaya yang terjadi semakin marak akhir-akhir ini, mulai dari tawuran antar desa, tawuran antar pelajar, degradasi moral dan etika, krisis kepercayaan masyarakat terhadap para pemimpin, banyaknya anak yang putus sekolah dan kesadaran orang tua yang kurang tentang pendidikan, serta banyaknya kriminalitas yang diakibatkan dari semakin merajalelanya narkoba di masyarakat Indonesia. Menyikapi permasalahan sosial dan budaya, John Dewey dalam (Dewey, 1916) berpandangan bahwa secara kodrati manusia memiliki kemampuan untuk mengaktualisasi diri sesuai dengan kondisi sosialnya. Hal tersebut dapat diakibatkan karena kebiasaan yang terjadi di lingkungannya. John Dewey juga menjelaskan bahwa kejahatan bukanlah sesuatu yang tidak dapat dirubah. Sebaliknya, kejahatan merupakan hasil kebiasaan manusia yang dibentuk dan dikondisikan oleh budaya. Oleh karena itu, syarat mutlak untuk mengatasi kejahatan adalah mengubah kebiasaan-kebiasaan masyarakat, yaitu kebiasaannya dalam berpikir dan bereaksi terhadap lingkungan sosial.

Gejala-gejala negatif dan destruktif menjadi gambaran sehari-hari dari fenomena kebangsaan kita sekarang. Fenomena atau gejala destruktif ini seakan-akan telah membudaya dalam kehidupan masyarakat Indonesia, terutama mereka para petinggi yang seharusnya dapat menjadi figur atau contoh teladan bagi masyarakat Indonesia. Permasalahan sosial dan budaya yang terjadi di masyarakat tidak terlepas dari pendidikan. Pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam menyikapi dan sekaligus sebagai problem solver terhadap masalah sosial budaya yang timbul. Dalam (Dewey, 1916), John Dewey mengatakan bahwa salah satu tujuan sekolah formal adalah memastikan setiap siswa dapat memiliki eksistensi walaupun dari latar belakang sosial yang berbeda.

Dikembalikannya urusan kebudayaan menjadi domain Kementerian Pendidikan Nasional disambut baik oleh berbagai kalangan. Bahkan, pengamat pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta, HAR Tilaar dalam (Negeri, 2011), menilai pemerintah selama ini telah salah arah dalam memisahkan pendidikan dan kebudayaan. Sementara itu, pengamt pendidikan Arief Rachman mendukung dikembalikannya urusan kebudayaan menjadi domain kewenangan Kementerian Pendidikan Nasional. Menurutnya, pendidikan dan kebudayaan seperti pohon ilmu yang saling terkait dan tidak bisa terpisahkan.

Dari uraian diatas diketahui bahwa sosial dan budaya berpengaruh terhadap pendidikan, oleh karena itu masalah yang dibahas dalam makalah ini adalah komponen apa dari pendidikan yang dilandasi oleh sosial budaya.

Pembahasan

Sosiologi Pendidikan

Pendidikan pada hakikatnya adalah kegiatan sadar dan disengaja secara penuh tanggung jawab yang dilakukan orang dewasa kepada anak sehingga timbul interaksi dari keduanya agar anak tersebut mencapai kedewasaan yang dicita-citakan yang dilakukan secara bertahap berkesinambungan di semua lingkungan yang saling mengisi (rumah tangga, sekolah, masyarakat). Kegiatan pendidikan merupakan proses interaksi antara dua individu, dua generasi yang memungkinkan generasi muda mengembangkan dirinya. Kegiatan pendidikan yang sistematis terjadi dalam lembaga yang disebut sekolah. Sekolah sengaja dibentuk oleh masyarakat agar pola dan kegiatan pendidikan semakin intensif (Tirtarahardja, 2005, hal. 95). Unsur sosial merupakan aspek individual alamiah yang ada sejak manusia itu lahir. Langeveld mengatakan “setiap bayi yang lahir dikaruniai potensi sosialitas atau kemampuan untuk bergaul, saling berkomunikasi yang pada hakikatnya terkandung unsur saling memberi dan saling menerima (Tirtarahardja, 2005, hal. 18). Aktivitas sosial tercermin pada pergaulan sehari-hari, saat terjadi interaksi sosial antar individu yang satu dengan yang lain atau individu dengan kelompok, serta antar kelompok. Di dalam interaksi ini ada keterkaitan saling mempengaruhi (Ahmadi, 2003, hal. 13).

Menurut H.P Fairchild dalam (Ahmadi, 2007, hal. 1) mengatakan bahwa sosiologi pendidikan adalah sosiologi yang diterapkan untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan yang fundamental. Sedangkan sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang terdiri atas konsep dan prinsip mengenai kehidupan kelompok sosial, kebudayaan, dan perkembangan pribadi.

Dengan demikian pengertian sosiologi pendidikan yaitu ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang hubungan dan interaksi manusia, baik itu individu atau kelompok dengan peresekolahan sehingga terjalin kerja sama yang sinergi dan berkesinambungan antara manusia dengan pendidikan.

Sosiologi dan Pendidikan

Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok-kelompok dan struktur sosialnya. Salah satu bagian sosiologi, yang dapat dipandang sebagai sosiologi khusus adalah sosiologi pendidikan. Wuradji (1988) dalam (Pidarta, 2009, hal. 153) menulis bahwa sosiologi pendidikan meliputi interaksi guru-siswa, dinamika kelompok di kelas dan di organisasi intra sekolah, struktur dan fungsi sistem pendidikan, dan sistem masyarakat serta pengaruhnya terhadap pendidikan. Wujud dari sosiologi pendidikan adalah tentang konsep proses sosial.

Pendidikan merupakan tempat terjadinya interaksi sosial dari warga lembaga pendidikan tersebut yang memiliki latar belakang sosial yang berbeda-beda. Dalam proses interaksi yang terjadi ada kemungkinan terjadinya integrasi maupun disintegrasi. Integrasi dapat terjadi jikalau antara kelompok sosial yang berinteraksi memiliki hubungan yang serasi sehingga interaksi sosial akan membuahkan kerjasama dan asimilasi budaya satu sama lain. Di sisi lain, jika interaksi yang terjadi antar kelompok sosial tidak baik maka yang akan terjadi adalah disintegrasi, yang dapat berwujud konflik dan kompetisi tidak sehat. Konflik sangat berpeluang terjadi pada saat individu atau kelompok sosial memiliki latar belakang budaya yang bertentangan dengan budaya yang di anut oleh individu atau kelompok sosial yang lain. Disinilah peran pendidikan sangat besar dalam menghalau konflik dengan memberikan pemahaman konsep tentang nilai-nilai sosial dan tujuan hidup bermasyarakat yang sama.

Pendidikan tidak selalu diartikan berada dalam ranah pendidikan formal, karena ada pendidikan informal, pendidikan dalam keluarga yang memiliki peran lebih besar dalam penanaman konsep hidup sebagai makhluk sosial karena rumah adalah tempat pertama terjadinya sosialisasi. Pada keluarga yang telah mengajarkan bagaimana bersikap yang baik antar anggota keluarga yang berbeda maka akan tumbuh anak-anak yang memiliki sosialisasi yang baik pula.

Perkembangan manusia dipengaruhi oleh dua aspek, yaitu aspek biologik dan aspek personal-sosial. Selain aspek biologik, aspek personal-sosial harus mendapat perhatian khusus dikarenakan banyak kasus menunjukkan bahwa anak yang memiliki isolasi sosial tidak dapat berkembang sebagai pribadi sosial yang normal. Oleh karena itu proses sosialisasi dan pembentukan kesetiaan sosial (formation of social loyalities) harus berjalan secara simultan sehingga kemampuan anak dalam bersosialisasi dan beradaptasi semakin meningkat. Untuk mencapai tujuan perkembangan anak dalam aspek sosial-personal, sekolah menggunakan metode-metode pembelajaran yang dapat meningkatkan proses sosialisasi anak, antara lain metode reward and punishment, metode didactic teaching, dan metode teacher model.

Mengacu pada kondisi diatas maka sudah seharusnya sekolah memperhatikan sisi sosial dan budaya dalam pengembangan kurikulum. Menurut Ahmadi (2007, hal. 129), kurikulum tidak hanya rangkaian pelajaran namun lebih dari itu kurikulum adalah situasi dan kondisi dimana sekolah dapat menyelidiki dan mengorganisir secara sadar untuk tujuan pengembangan kepribadian murid untuk membuat perubahan tingkah laku.

Kebudayaan dan Pendidikan

Imran (1989) menuliskan dalam (Pidarta, 2009, hal. 164) bahwa kebudayaan menurut Taylor adalah totalitas yang kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, hukum, moral, adat, dan kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang diperoleh orang sebagai anggota masyarakat.

Antara pendidikan dan kebudayaan terdapat hubungan yang sangat erat dalam arti keduanya berkenaan dengan suatu hal yang sama yaitu nilai-nilai. Broom dan Selznick dalam (Ahmadi, 2007, hal. 182) berpendapat bahwa fungsi pendidikan sekolah ada lima macam, yaitu transmisi budaya, integrasi sosial, inovasi, seleksi dan alokasi, dan mengembangkan kepribadian anak.

Pengertian transmisi budaya tidak hanya terbatas pada mengajarkan anak tentang pengetahuan, bagaimana cara belajar, dan melainkan juga sikap, nilai-nilai, dan norma-norma, bahkan pendidikan sikap, nilai-nilai dan norma dipelajari secara informal dalam situasi formal di dalam kelas dan di sekolah.

Dalam kondisi masyarakat indonesia yang heterogen dan pluralistik, fungsi sekolah dalam menjamin intergrasi sosial sangatlah penting mengingat bahaya disintegrasi sosial sangat besar pada masyarakat yang memiliki bermacam-macam adat, bahasa daerah, agama, dan taraf perkembangannya. Sehingga pendidikan dalam hal ini sekolah perlu mengajarkan bahasa nasional, yaitu bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu yang memungkinkan terjadinya komunikasi yang baik antar suku, bahkan buku pelajaran pun di tulis dalam bahasa Indonesia agar terjadi kesamaan pengalaman yang akan berujung pada perkembangan sikap dan nilai yang sama dalam diri anak. Selain diajarkan bahasa Indonesia, sekolah juga mengajarkan kepada anak tentang corak kepribadian nasional melalui pelajaran sejarah, dan geografi nasional, upacara bendera, dan peringatan hari besar nasional serta lagu-lagu nasional.

Selain keluarga, sekolah juga ikut bertanggung jawab terhadap perkembangan kepribadian anak, sehingga dalam pendidikan sekolah yang diajarkan tidak hanya pengetahuan yang akan berpengaruh pada intelek anak, melainkan diajarkan juga perkembangan watak anak melalui latihan kebiasaan dan tata tertib, budi pekerti, pendidikan agama dan sebagainya.

Tiap sekolah pasti memiliki kebudayaan yang khas sekolah yang bersangkutan (Ahmadi, 2007, hal. 187). Penelitian menunjukkan bahwa budaya sekolah mempunyai pengaruh yang mendalam terhadap proses dan cara belajar siswa. Sebagai contoh apa yang di hayati siswa dalam sikap belajar, kewibawaan, sikap terhadap nilai-nilai, dan sebagainya tidak berasal dari kurikulum formal sekolah tapi dari budaya sekolah.

Masyarakat dan Sekolah

Asal mula munculnya sekolah adalah atas dasar anggapan dan kenyataan bahwa pada umumnya para orang tua tidak mampu mendidik anak mereka secara sempurna dan lengkap. Karena itu mereka membutuhkan bantuan kepada pihak lain, dalam hal ini adalah lembaga pendidikan, untuk mengembangkan anak-anak mereka secara relatif sempurna, walaupun cita-cita ini tidak otomatis tercapai. Warga masyarakat dan para personalia sekolah masih memerlukan perjuangan keras untuk mencapai cita-cita itu, yang sampai sekarang belum pernah berhenti. Sebab sejalan dengan perkembangan kebudayaan, makin banyak yang perlu dipelajari dan diperjuangankan di sekolah.

Manfaat pendidikan bagi masyarakat adalah untuk meningkatkan peranan mereka sebagai warga masyarakat, baik yang berkaitan dengan kewajiban maupun dengan hak mereka. Dalam rangka pendidikan seumur hidup misalnya, warga belajar bisa belajar tentang apa saja sesuai dengan minat dan bakat mereka, sehingga pemahaman, keterampilan tertentu, dan sikap mereka semakin meningkat. Hal ini membuat mereka merasa semakin mantap sebagai warga negara (Pidarta, 2009, hal. 176). Hubungan yang erat antara sekolah dengan masyarakat karena saling membutuhkan satu dengan yang lain, membuat kemungkinan terbentuknya badan kerja sama yang relatif lama.

Berdasarkan uraian di atas, dapatlah kita sarikan penjelasan masyarakat dan sekolah ini sebagai berikut:

1. Sekolah tidak dapat dipisahkan dari masyarakat

2. Sekolah bermanfaat bagi kemajuan budaya masyarakat, khususnya pendidikan anak-anak.

3. Masyarakat memberi sejumlah dukungan kepada sekolah.

4. Perlu ada badan kerja sama antara sekolah dengan masyarakat dalam mensukseskan pendidikan (Pidarta, 2009, hal. 183).

Fungsi Sosiologi Terhadap Pendidikan

Dalam perkembangan landasan sosial budaya memiliki fungsi yang amat penting dalam dunia pendidikan yaitu :

1. Mewujudkan masyarakat yang cerdas, yaitu masyarakat yang pancasilais yang memiliki cita-cita dan harapan dapat demokratis dan beradab, menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia dan bertanggung jawab dan berakhlak mulia tertib dan sadar hukum, kooperatif dan kompetitif serta memiliki kesadaran dan solidaritas antar generasi dan antara bangsa.

2. Transmisi budaya, sekolah berfungsi sebagai reproduksi budaya menempatkan sekolah sebagai pusat penelitian dan pengembangan. Fungsi semacam ini merupakan fungsi pada perguruan tinggi. Pada sekolah-sekolah yang lebih rendah, fungsi ini tidak setinggi pada tingkat pendidikan tinggi.

3. Pengendalian Sosial, pengendalian sosial berfungsi memberantas atau memperbaiki terjadinya suatu perilaku menyimpang. Pengendalian sosial juga berfungsi melindungi kesejahteraan masyarakat seperti lembaga pemasyarakatan dan lembaga pendidikan.

4. Meningkatkan Iman dan Taqwa kepada Tuhan YME, pendidikan sebagai budaya haruslah dapat membuat anak-anak mengembangkan kata hati dan perasaannya taat terhadap ajaran-ajaran agama yang dipeluknya.

5. Analisis Kedudukan Pendidikan dalam Masyarakat, hubungan antara lembaga pendidikan dengan masyarakat dapat dianalogikan sebagai selembar kain batik. Dalam hal ini motif-motif atau pola-pola gambarnya adalah lembaga pendidikan dan kain latarnya adalah masyarakat. Antara lembaga pendidikan dengan masyarakat terjadi hubungan timbal balik simbiosis mutualisme. Pendidikan atau sekolah memberi manfaat untuk meningkatkan peranan mereka sebagai warga masyrakat.

Menurut Broom (1981), fungsi pendidikan antara lain sebagai transmisi budaya, meningkatkan integrasi sosial atau bermasyarakat, mengadakan seleksi dan alokasi tenaga kerja melalui pendidikan itu sendiri, dan mengembangkan kepribadian.

Pendidikan Multikultural

Tilaar (2002) mengungkapkan bahwa dalam program pendidikan multikultural, fokus tidak lagi diarahkan semata-mata kepada kelompok rasial, agama, dan kultural domain atau mainstream. Fokus seperti ini pernah menjadi tekanan pada pendidikan interkultural yang menekankan peningkatan pemahaman dan toleransi individu-individu yang berasal dari kelompok minoritas terhadap budaya mainstream yang dominan, yang pada akhirnya menyebabkan orang-orang dari kelompok minoritas terintegrasi ke dalam masyarakat mainstream. Pendidikan multikultural sebenarnya merupakan sikap “peduli” dan mau mengerti (difference), atau “politics of recognition” politik pengakuan terhadap orang-orang dari kelompok minoritas.

Hal senada juga diungkapkan oleh Mantan Menteri Pendidikan Nasional, Malik Fajar (2004) dalam (Sukardjo, Komarudin. U, 2009) bahwa multikulturalisme perlu ditumbuhkan karena potensi yang dimiliki Indonesia secara kultural, tradisi, dan lingkungan geografi, serta demografis sangat luar biasa. Pemahaman multikulturalisme harus sudah ditanamkan sejak dini pada setiap anak agar terkontruksi rasa kepemilikan dan kebanggaan akan budaya bangsa.

Tidak dapat dipungkiri bahwa konflik SARA yang terjadi di negeri ini adalah disebabkan lemahnya pemahaman dan pemaknaan tentang konsep kearifan budaya. Dengan demikian dianggap perlu untuk diperkenalkan kepada segenap masyarakat terutama siswa tentang pendidikan multikultural, pendidikan lintas budaya yang akan menimbulkan kearifan dalam menghargai keragaman etnis, budaya, dan agama.

Lembaga pendidikan sebagai miniatur masyarakat Indonesia dari segi agama dan budaya, sangat terasa perjumpaan lintas budaya dan agama. Dengan dasar itu, pemerintah wajib menfasilitasi beragam kemungkinan terjadinya pertemuan antar budaya lokal. Melalui pendidikan yang toleran, situasi tegang dan penuh konflik akan diarahkan kepada sikap empatik dan inklusif terhadap pluralitas. Bahkan secara psikologis pendidikan toleransi dan empati mampu memperhalus sensibilitas manusia, membuatnya menyadari eksistensi dirinya sebagai bagian kecil dari sistem sosial.

Komarudin Hidayat (2004) dalam (Sukardjo, Komarudin. U, 2009) mengajukan prinsip yang harus dipakai guru untuk mengarahkan sekolah dengan kultur yang berorientasi multikultural. Setiap anak adalah istimewa, pendekatan multi intelligences, active learning, universalitas agama, dan semangat kemanusiaan dan keindonesiaan.

Apabila semua lembaga pendidikan yang merupakan miniatur masyarakat Indonesia telah berhasil menanamkan pemahaman multikulturalisme dengan baik, maka terbentuknya masyarakat madani Indonesia akan menjadi suatu keniscayaan.

Masyarakat Madani adalah suatu masyarakat yang berbudaya, maju dan modern, setiap warganya menyadari dan mengetahui hak-hak dan kewajibannya terhadap negara, bangsa dan agama serta terhadap sesama, dan menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia. Menurut Tilaar (2002), ciri-ciri pokok masyarakat madani Indonesia adalah : 1) Kesukarelaan, artinya bukan masyarakat paksaan. 2) Keswasembadaan, artinya tidak menggantungkan hidup dengan orang lain. 3) Kemandirian, artinya percaya dengan kekuatan sendiri. 4) Keterkaitan dengan hukum yang disepakati, artinya mentaati hukum yang berlaku.

Penutup

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa landasan sosial dan budaya sangat penting dalam pendidikan karena berhubungan dengan norma dan nilai-nilai. Adapun komponen pendidikan yang dilandasi oleh sosial dan budaya adalah kurikulum sekolah, dimana unsur sosial dan budaya harus diperhatikan dalam mengembangkan kurikulum pendidikan di sekolah.

Sekolah harus menerapkan konsep sosiologi pendidikan, dimana setiap individu maupun kelompok sosial dalam lingkup sekolah harus memahami eksistensinya sebagai makhluk sosial sehingga interaksi sosial yang terjalin dalam proses pendidikan berjalan sinergi.

Sekolah memiliki fungsi sebagai transmisi budaya, yang berarti dalam proses pendidikan harus didukung oleh kurikulum yang menerapkan konsep transmisi budaya. Sekolah tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan tapi juga mengajarkan budaya yang berisi nilai-nilai dan norma-norma, serta budi pekerti yang baik.

Karena sekolah merupakan miniatur masyarakat Indonesia maka dalam menyikapi kondisi masyarakat indonesia yang multikultural, sekolah harus menerapkan pendidikan toleransi agar tidak terjadi disintegrasi dan konflik

Daftar Pustaka

Ahmadi, A. (2003). Ilmu Sosial Dasar. Jakarta: Rineka Cipta.

Ahmadi, A. (2007). Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Broom, L. (1981). Sociology. New York: Harper and Row Publishers.

Dewey, J. (1916). Democracy and Education. Dipetik November 19, 2012, dari http://www.ilt.columbia.edu.

Negeri, R. d. (2011, Oktober 19). Kebudayaan dan Pendidikan Harus Saling Menopang. Dipetik November 25, 2012, dari http://hminews.com.

Pidarta, M. (2009). Landasan Kependidikan Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Sukardjo, Komarudin. U. (2009). Landasan Kependidikan Konsep dan Aplikasinya. Jakarta: Rajawali Pers.

Tilaar, H. A. (2002). Pendidikan Kebudayaan dan Masyarakat Madani Indonesia. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Tirtarahardja, U. (2005). Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

 silakan mengcopy dengan mencantumkan link blog ini :oops:

Categories: Teknologi Pendidikan | Tags: , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 248 other followers

%d bloggers like this: